Di Gili Trawangan (begitu juga di dua gili yang lain), tidak terdapat kendaraan bermotor, alasannya tidak diizinkan oleh hukum lokal. Sarana transportasi yang lazim ialah sepeda (disewakan oleh masyarakat setempat untuk para wisatawan) dan cidomo, kereta kuda sederhana yang umum dijumpai di Lombok. Untuk bepergian ke dan dari ketiga gili itu, penduduk biasanya memakai kapal bermotor dan speedboat.
Source : http://www.id.wekepedia.org
Cerita dari salah satu wartawan kompas
KOMPAS.com - Kali kedua saya iseng ke Lombok, salah satu daerah yang selalu ingin saya datangi ialah Gili Trawangan. Entah mengapa, Gili Trawangan selalu mempesona bagi saya. Entah pantainya ataupun suasananya. Pertama ke Gili Trawangan di tahun 2008, kesan pertama ialah indah dan ramai. Maklum ketika itu peak seasson, sehingga bule-bule banyak berkeliaran di sepanjang jalan di Gili Trawangan. Kaprikornus serasa bukan di negeri sendiri. Namun kunjungan kedua saya kali ini kebetulan masuk low season, sehingga pemandangannya sedikit berbeda, alasannya tidak terlalu penuh.
Saya pun mendapat kamar yang agak murah di Unique Hotel yang letaknya di bersahabat jalan utama.
Jika kunjungan pertama saya, saya naik angkutan umum dari kota Mataram, yang rutenya Mataram - Rembiga - Pamenang disambung dengan naik kapal umum dari pelabuhan Bangsal menuju Gili, untuk kali ini saya memakai sepeda motor yang saya titipkan di Bangsal.
Daerah yang terindah ketika melaksanakan perjalanan dari Mataram menuju Bangsal, berdasarkan saya ialah ketika kita memasuki hutan Pusuk, yang terkenal dengan banyaknya monyet yang berkeliaran. Jika memakai angkutan umum saya tidak sanggup singgah, kali ini saya sanggup dengan leluasa singgah di beberapa spot yang cantik.
Satu jam perjalanan dari Mataram menuju Bangsal, tidak mengecewakan menciptakan tubuh saya sedikit lelah. Tiba di Bangsal, kebetulan sudah ada public boat yang akan melaju menuju Gili Trawangan, sehingga saya tidak perlu menunggu terlalu usang dan terhindar dari para pedagang-pedagang yang adakala sudah hingga taraf mengganggu.
Setelah 30 menit berlalu, sampailah bahtera kami di Gili Trawangan. Saya pun bergegas turun, kembali bahagia alasannya sanggup menyentuh kembali air pantai Gili Trawangan. Terkesan kekanak-kanakan mungkin, tapi enatahlah, magnet apa yang sanggup menciptakan saya selalu tertarik pada pulau yang satu ini. Namun kali ini ternyata beberapa wisatawan lokal harus mendata kan dirinya di pos keamanan yang terletak tidak jauh dari loket tiket gili. Aneh, kunjungan saya yang pertama tidak harus melewati mekanisme ibarat ini, tapi ya sudah lah, kita ikuti saja hukum mainnya.
Lepas dari pos pendataan pengunjung, saya pun bergegas mencari penginapan yang murah meriah. Tapi bersama-sama penginapan di Gili Trawangan ini masih dalam taraf agak mahal, untuk ukuran pelancong kere ibarat saya. Sebenarnya sanggup saja saya menumpang di pos penjagaan atau di beebrapa beruga yang ada di barat Gili Trawangan, tapi kali ini rasanya ingin sedikit bermanja-manja untuk urusan daerah menginap. Saya pun mendapat kamar yang agak murah di Unique Hotel yang letaknya di bersahabat jalan utama (sudah niscaya agak mahal), namun yang terpenting terusan internet nya, hehehehe…..
Selesai urusan check-in dan bongkar muat, saya pun menuju pantai untuk sekedar leyeh-leyeh menikmati cuaca yang sedikit mendung siang itu. Ada beberapa turis abnormal yang dengan santainya membuka atasannya (topless) dan kemudian berjemur di pinggir pantai. Pemandangan yang berbeda he-he-he…. Awalnya saya ingin ber-snorkeling di pantai sebelah barat, namun alasannya sudah pernah ber-snorkeling disini, saya pun mengurungkan niat tersebut. Dan tanpa terasa saya pun alhasil terlelap di sebuah Beruga di pinggir pantai hingga sore menjelang. traveling
Sayang ketika itu cuaca kembali mendung, sehingga saya sudah sanggup memprediksi tidak akan terlihat sunset yang indah. Saya pun kembali ke penginapan untuk mandi. Di Gili Trawangan, saya sanggup setiap ketika ingin mandi. Selain alasannya cuacanya yang panas, didukung juga air yang kita pergunakan untuk mandi ialah air asin, sehingga akan terasa lengket terus di tubuh ini. Sampai-sampai saya sering tertawa geli dalam hati jikalau sedang berjalan kaki di Gili Trawangan dan menemui bejana air minum kuda-kuda penarik Cidomo, yang ternyata berisi air tawar dan hanya diperuntukkan untuk kuda-kuda tersebut. Ternyata di sini, kuda memegang kuasa, he-he-he...


Salah satu yang saya sukai dengan Gili Trawangan ialah kehidupan malamnya. Di sini, untuk urusan café to café memang tidak mengecewakan menghibur. Dan untuk tiap malamnya, niscaya ada saja beach party. Berbeda dengan café-café di Kuta Bali yang selalu menyediakan hiburan malam pada ketika yang bersamaan, di Gili Trawangan terdapat giliran waktu bagi mereka, sehingga tiap hari niscaya akan berbeda café mana yang akan mengadakan beach party. Sayang kali ini saya kurang begitu tertarik untuk menikmati hiburan malam di Gili Trawangan, sehingga sehabis makan malam, saya memutuskan untuk memakai akomodasi internet penginapan.
Keesokan harinya, sebelum tengah hari, saya sudah meninggalkan Gili Trawangan. Agak terlalu cepat memang, namun hal itu dikarenakan saya masih ingin mengunjungi beberapa daerah di Lombok. Mungkin selanjutnya saya ingin berkunjung ke Gili Nanggu, yang ketika ini sedang ramai dibicarakan alasannya keindahan pantainya. (Johan Sobihan)



No comments:
Post a Comment