Dalam rangka memperingati hari HUT armada RI ke-71 hari ahad kemarin, sempat mengikuti program FunBike di Lapangan Malomba. walaupun enggak dapet doorprice sih....😅😅😅
teringat waktu perjalanan ke surabaya sempat mampir ke musium kapal selam (Monkasel) KRI Pasopati 410, yang punya cerita heroik tidak mengecewakan seru... ini salah satu kisahnya:
Tahun 1974 GUSPURLA (Gugus Tempur Laut) ALRI menerima perintah dari Mabes ABRI untuk operasi pengamanan Selat Malaka bekerja sama dengan TLDM (Tentera Laut Diraja Malaysia), dalam Gugus Tempur tersebut terdapat KS (Kapal Selam) RI Pasopati dengan komandan Kapten (P) Soentoro dengan Komandan Guspurla Laksamana Pertama Mardiono.
Pada ketika pembicaraan Rencana Operasi dengan perwira TLDM di Belawan, Medan mereka sudah tidak suka ada unsur Kapal Selam yang ikut dalam operasi itu "untuk apa...!?"kata mereka.
Mungkin mereka khawatir KS kita bisa dengan gampang menyelinap ke daerah mereka alasannya dalam rencana operasi tersebut setiap armada tempur masing masing negara berpatroli di daerahnya masing masing sehabis itu gres berkumpul di suatu titik kumpul dan berkonvoi masuk ke penang, malaysia pada etape I dan sabang, indonesia pada etape II
Dengan penolakan secara tidak etis tersebut komandan KS RI Pasopati dengan nomer lambung 410 merasa panas, tetapi diredakan oleh Dan Guspurla demi persahabatan kedua negara, tapi membisu - membisu Komandan KS ingin memberi pelajaran kepada TLDM.Pada etape I sehabis selesai berpatroli maka semua kapal perang berkumpul di titik kumpul dan berkonvoi menuju Penang ... dan menjelang pintu masuk pelabuhan Penang, tiba - tiba KS RI Pasopati sudah muncul dulu disana dan menciptakan panik rombongan konvoi yang dipimpin oleh TLDM. Hal tersebut menciptakan kesal Panglima TLDM Kolonel Laut Sidiq dan berkata KS tidak usah ikut campur urusan patroli dan semoga keluar dari deretan dan area patroli.
Pada etape II KS KRI Pasopati kelakukan free hunting (tidak mengikuti) contoh patroli tetapi bebas menentukan target sendiri dan sehabis selesai seluruh kapal berpatroli masuk ke pelabuhan Sabang. Di sini awak KS KRI Pasopati ingin memperlihatkan kejutan dan sekedar pamer kepada TLDM.
Dengan ketelitian yang tinggi KS masuk alur pelabuhan dengan cara menyelam padahal kedalam alur pelabuhan hanya 20 m, dari periskop terlihat awak Kapal TLDM jenis LST yang menjadi kapal komando tidak menyadari disekati oleh KS secara membisu diam dan setelah tinggal jarak beberapa meter dari lambung kapal mereka, maka muncullah dengan tiba-tiba KS RI Pasopati dan membunyikan gauk (sirine) tanda kedatangan mereka, sehingga gemparlah pelabuhan Sabang terutama awak kapal TLDM yang kapalnya sudah ditempel sama KS RI Pasopati.
Dengan ketelitian yang tinggi KS masuk alur pelabuhan dengan cara menyelam padahal kedalam alur pelabuhan hanya 20 m, dari periskop terlihat awak Kapal TLDM jenis LST yang menjadi kapal komando tidak menyadari disekati oleh KS secara membisu diam dan setelah tinggal jarak beberapa meter dari lambung kapal mereka, maka muncullah dengan tiba-tiba KS RI Pasopati dan membunyikan gauk (sirine) tanda kedatangan mereka, sehingga gemparlah pelabuhan Sabang terutama awak kapal TLDM yang kapalnya sudah ditempel sama KS RI Pasopati.
Malamnya Komandan Guspurla tiba kepada Komandan KS RI Pasopati dan menyalaminya sambil tersenyum dan berkata "Jangan Sembrono lagi ya", dijawab "Siap Laksamana".
![]() |
| KRI Pasopati 410 |
di Jalan Pemuda, Kota Surabaya, niscaya mata Anda akan melihat sebuah kapal selam berdiri kokoh di pinggir jalan tersebut. Jika Anda memang sengaja hendak berlibur di Kota Pahlawan ini dengan keluarga, tidak ada salahnya mampir dan melihat dari bersahabat apa dan siapa mengenai keberadaan kapal selam tersebut.
Itulah Monumen Kapal Selam alias Monkasel dimana KRI Pasopati 401 dipajang di sana. Kapal selam ini merupakan salah satu kapal selam Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut tipe Whiskey Class buatan Uni Soviet tahun 1952. KRI Pasopati masuk jajaran Tentara Nasional Indonesia AL pada 29 Januari 1962 dan turut terlibat dalam operasi pembebasan Irian Barat dari tangan Belanda kala itu.
Monkasel yang dibangun dengan pandangan gres para sesepuh kapal selam Tentara Nasional Indonesia AL ini diresmikan tanggal 27 Juni 1998 untuk memperingati keberanian para pahlawan Indonesia. Untuk membawa kapal selam ke kota Surabaya bukanlah perkara mudah. Pasopati harus dipotong menjadi 16 bab dan selanjutnya dibawa ke area Monkasel kemudian dirakit kembali menjadi sebuah monumen. Monkasel di sisi Sungai Kalimas ini disebut-sebut merupakan Monkasel terbesar di daerah Asia.
Pengunjung hanya membeli tiket masuk sebesar Rp 5.000. Sebelum menaiki tangga memasuki lambung KRI Pasopati, petugas jaga akan menyarankan pengunjung menuju sebuah ruangan untuk menyaksikan film dokumenter selama sekitar 30 menit mengenai sejarah Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut dan sepak terjang kapal selam ketika pertama kali diterima Tentara Nasional Indonesia AL dari Uni Soviet atau Rusia.
Atmadji Sumarkidjo, dalam buku Mission Accomplished (2010), menyebutkan sebanyak 12 kapal selam jenis Whiskey Class atau "W" yang dibeli dari Soviet bukan kapal selam yang gres sama sekali, tetapi reputasinya cukup baik kala itu. Soviet memang membuatkan sejumlah tipe kapal selam, tetapi hanya tipe "W" yang mereka jual ke negara-negara "sahabat", salah satunya ke Indonesia.
Sebelum membawa kapal selam tersebut ke Tanah Air, maka dikirimlah para pelaut muda Indonesia ini secara bergelombang mengikuti on the job training pribadi di kota Vladivostok, pangkalan utama kapal selam untuk pasifik yang disebut sebagai Pusat Pendidikan 89, Angkatan Laut Uni Soviet.
Di sanalah para pelaut muda Indonesia digembleng bagaimana mengawaki kapal selam ini. Latihan dengan kapal selam dilakukan di perairan di Vladivostok yang sangat dingin. Pengantar untuk berkomunikasi pun dilakukan dalam bahasa Rusia. Untuk itu sebanyak empat guru perempuan didatangkan dari Moskwa untuk memperlihatkan kursus kilat bahasa Rusia bagi para awak kapal Indonesia ini. Dalam waktu 3 bulan umumnya mereka sudah bisa menguasai dasar-dasar bahasa Rusia.
Itulah Monumen Kapal Selam alias Monkasel dimana KRI Pasopati 401 dipajang di sana. Kapal selam ini merupakan salah satu kapal selam Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut tipe Whiskey Class buatan Uni Soviet tahun 1952. KRI Pasopati masuk jajaran Tentara Nasional Indonesia AL pada 29 Januari 1962 dan turut terlibat dalam operasi pembebasan Irian Barat dari tangan Belanda kala itu.
Monkasel yang dibangun dengan pandangan gres para sesepuh kapal selam Tentara Nasional Indonesia AL ini diresmikan tanggal 27 Juni 1998 untuk memperingati keberanian para pahlawan Indonesia. Untuk membawa kapal selam ke kota Surabaya bukanlah perkara mudah. Pasopati harus dipotong menjadi 16 bab dan selanjutnya dibawa ke area Monkasel kemudian dirakit kembali menjadi sebuah monumen. Monkasel di sisi Sungai Kalimas ini disebut-sebut merupakan Monkasel terbesar di daerah Asia.
Pengunjung hanya membeli tiket masuk sebesar Rp 5.000. Sebelum menaiki tangga memasuki lambung KRI Pasopati, petugas jaga akan menyarankan pengunjung menuju sebuah ruangan untuk menyaksikan film dokumenter selama sekitar 30 menit mengenai sejarah Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut dan sepak terjang kapal selam ketika pertama kali diterima Tentara Nasional Indonesia AL dari Uni Soviet atau Rusia.
Atmadji Sumarkidjo, dalam buku Mission Accomplished (2010), menyebutkan sebanyak 12 kapal selam jenis Whiskey Class atau "W" yang dibeli dari Soviet bukan kapal selam yang gres sama sekali, tetapi reputasinya cukup baik kala itu. Soviet memang membuatkan sejumlah tipe kapal selam, tetapi hanya tipe "W" yang mereka jual ke negara-negara "sahabat", salah satunya ke Indonesia.
Sebelum membawa kapal selam tersebut ke Tanah Air, maka dikirimlah para pelaut muda Indonesia ini secara bergelombang mengikuti on the job training pribadi di kota Vladivostok, pangkalan utama kapal selam untuk pasifik yang disebut sebagai Pusat Pendidikan 89, Angkatan Laut Uni Soviet.
Di sanalah para pelaut muda Indonesia digembleng bagaimana mengawaki kapal selam ini. Latihan dengan kapal selam dilakukan di perairan di Vladivostok yang sangat dingin. Pengantar untuk berkomunikasi pun dilakukan dalam bahasa Rusia. Untuk itu sebanyak empat guru perempuan didatangkan dari Moskwa untuk memperlihatkan kursus kilat bahasa Rusia bagi para awak kapal Indonesia ini. Dalam waktu 3 bulan umumnya mereka sudah bisa menguasai dasar-dasar bahasa Rusia.
Kapal selam KRI Pasopati 401 mempunyai panjang 76,6 meter, lebar 6,30 meter dan dilengkapi dengan gas uap torpedo berjumlah 12 buah dan secara teoritis bisa menyelam sedalam 300 meter. Spesifikasi lainnya kecepatan 18,3 knot di atas permukaan, 13,6 knot di bawah permukaan; berat penuh 1.300 ton, baterai 224 unit, materi bakar diesel; baling-baling 6 lubang dan awak kapal sebanyak 63 orang termasuk komandan.
Jangan khawatir, ketika memasuki lambung KRI Pasopati, Anda akan ditemani oleh pemandu wisata yang merupakan siswa atau siswi Sekolah Menengah kejuruan di Surabaya. Pemandu wisata ini dengan fasih akan menjelaskan seluk beluk kapal selam KRI Pasopati dan apa-apa saja yang ada di dalamnya.
Siap-siap saja ketika Anda memasuki kapal selam Pasopati. Jangan membayangkan sebuah kapal penumpang dengan ruangan yang luas. Namanya kapal selam, semuanya serba sempit dan tidak ada ruang yang dibiarkan kosong melompong. Pengunjung yang bertubuh tinggi harus selalu waspada dan berjalan merunduk. Pasalnya banyak peralatan dipasang di dinding kapal.
Belum lagi penghubung antar satu ruangan dengan ruangan lain ada yang harus melalui sebuah pintu yang hanya cukup dilalui satu orang. Itupun syaratnya harus membungkukkan badan. Anda bisa membayangkan ketika posisi tempur atau darurat, para awak kapal selam ini dituntut gesit dan cekatan berpindah dari satu ruangan ke ruangan lain. Untuk berpapasan pun harus mengatur posisi tubuh terlebih dahulu bila tidak ingin bersenggolan.
KRI Pasopati mempunyai tujuh ruangan yakni ruang torpedo, ruang komandan, ruang jembatan utama dan sentra komando, ruang awak kapal, dapur dan penyimpanan baterai, ruang mesin diesel dan terminal mesin, kamar mesin listrik dan ruangan torpedo untuk bab buritan.
Sebagai sebuah monkasel, keberadaan pengunjung di dalam KRI Pasopati ini dibentuk nyaman. Pendingin ruangan telah dirancang untuk selalu mengalir ke seluruh tubuh kapal selam. Pengunjung pun dengan antusias mengikuti klarifikasi dari pramuwisata.
Padahal ketika kapal selam ini beroperasi ketika itu, KRI Pasopati tidak dilengkapi AC. Pasalnya, kapal selam jenis "W" ini dirancang untuk menyelam di maritim yang masbodoh ibarat di Soviet dan bukan di daerah tropis sehingga tidak memerlukan penyejuk ruangan. Akibatnya ketika Pasopati melaksanakan kiprah di perairan Indonesia, bisa Anda bayangkan betapa "luar biasa" hambatan yang dihadapi para ABK selama menyelam di bawah maritim di perairan tropis. Yang sangat membanggakan ialah para ABK ini tetap semangat tinggi menjalankan kiprah di tengah-tengah situasi yang serba "terbatas".
Sumarkidjo menuturkan, bila di Vladivostok yang masbodoh itu, ketika menyelam ialah yang paling menyenangkan, alasannya temperatur di dalam kapal menjadi hangat. Ketika para awak pertama menjalankan training di Vladivostok, pada ketika menyelam, mereka harus menggunakan baju tebal (para awak menyebutnya baju hanoman!) alasannya di dalam kapal sangat dingin.
Tetapi situasinya berbalik 180 derajat ketika beroperasi di perairan Indonesia. Semakin usang di bawah permukaan laut, semakin naik suhu di dalam kapal selam. Kadar CO2 di dalam kapal juga naik secara perlahan. Karena itulah kalau mereka melaksanakan penyelaman panjang harus dilakukan banyak sekali upaya untuk menghemat O2. Kaprikornus masuk akal kalau awaknya hanya bercelana pendek dan kaos saja. Bahkan Menteri Keamanan Nasional/KSAD (waktu itu) Jenderal AH Nasution ketika hadir di kapal yang sedang menyelam juga menggunakan celana pendek.
Satu hal lagi, kapal selam jenis "W" ini sulit dideteksi oleh kapal di permukaan. Hal ini terungkap ketika KRI Pasopati dalam suatu latihan bersama AL Australia menyelam sambil menarik sebuah bendera di permukaan untuk memperlihatkan posisi mereka. Namun alat sonar canggih milik kapal perang Australia tetap tidak bisa mendeteksi. Apa rahasianya? Ternyata rahasianya terletak
pada metalurgi kapal selam buatan Soviet tersebut sehingga alat sonar kapal-kapal buatan Barat sukar mendeteksinya.
KRI Pasopati pensiun menyelam tahun 1980 dan merupakan kapal selam Tentara Nasional Indonesia AL kelas "W" terakhir beroperasi. Itulah kehebatan kapal selam jenis whiskey class Tentara Nasional Indonesia AL dan betapa heroiknya usaha para awaknya ketika itu.
Jangan khawatir, ketika memasuki lambung KRI Pasopati, Anda akan ditemani oleh pemandu wisata yang merupakan siswa atau siswi Sekolah Menengah kejuruan di Surabaya. Pemandu wisata ini dengan fasih akan menjelaskan seluk beluk kapal selam KRI Pasopati dan apa-apa saja yang ada di dalamnya.
Siap-siap saja ketika Anda memasuki kapal selam Pasopati. Jangan membayangkan sebuah kapal penumpang dengan ruangan yang luas. Namanya kapal selam, semuanya serba sempit dan tidak ada ruang yang dibiarkan kosong melompong. Pengunjung yang bertubuh tinggi harus selalu waspada dan berjalan merunduk. Pasalnya banyak peralatan dipasang di dinding kapal.
Belum lagi penghubung antar satu ruangan dengan ruangan lain ada yang harus melalui sebuah pintu yang hanya cukup dilalui satu orang. Itupun syaratnya harus membungkukkan badan. Anda bisa membayangkan ketika posisi tempur atau darurat, para awak kapal selam ini dituntut gesit dan cekatan berpindah dari satu ruangan ke ruangan lain. Untuk berpapasan pun harus mengatur posisi tubuh terlebih dahulu bila tidak ingin bersenggolan.
KRI Pasopati mempunyai tujuh ruangan yakni ruang torpedo, ruang komandan, ruang jembatan utama dan sentra komando, ruang awak kapal, dapur dan penyimpanan baterai, ruang mesin diesel dan terminal mesin, kamar mesin listrik dan ruangan torpedo untuk bab buritan.
Sebagai sebuah monkasel, keberadaan pengunjung di dalam KRI Pasopati ini dibentuk nyaman. Pendingin ruangan telah dirancang untuk selalu mengalir ke seluruh tubuh kapal selam. Pengunjung pun dengan antusias mengikuti klarifikasi dari pramuwisata.
Padahal ketika kapal selam ini beroperasi ketika itu, KRI Pasopati tidak dilengkapi AC. Pasalnya, kapal selam jenis "W" ini dirancang untuk menyelam di maritim yang masbodoh ibarat di Soviet dan bukan di daerah tropis sehingga tidak memerlukan penyejuk ruangan. Akibatnya ketika Pasopati melaksanakan kiprah di perairan Indonesia, bisa Anda bayangkan betapa "luar biasa" hambatan yang dihadapi para ABK selama menyelam di bawah maritim di perairan tropis. Yang sangat membanggakan ialah para ABK ini tetap semangat tinggi menjalankan kiprah di tengah-tengah situasi yang serba "terbatas".
Sumarkidjo menuturkan, bila di Vladivostok yang masbodoh itu, ketika menyelam ialah yang paling menyenangkan, alasannya temperatur di dalam kapal menjadi hangat. Ketika para awak pertama menjalankan training di Vladivostok, pada ketika menyelam, mereka harus menggunakan baju tebal (para awak menyebutnya baju hanoman!) alasannya di dalam kapal sangat dingin.
Tetapi situasinya berbalik 180 derajat ketika beroperasi di perairan Indonesia. Semakin usang di bawah permukaan laut, semakin naik suhu di dalam kapal selam. Kadar CO2 di dalam kapal juga naik secara perlahan. Karena itulah kalau mereka melaksanakan penyelaman panjang harus dilakukan banyak sekali upaya untuk menghemat O2. Kaprikornus masuk akal kalau awaknya hanya bercelana pendek dan kaos saja. Bahkan Menteri Keamanan Nasional/KSAD (waktu itu) Jenderal AH Nasution ketika hadir di kapal yang sedang menyelam juga menggunakan celana pendek.
Satu hal lagi, kapal selam jenis "W" ini sulit dideteksi oleh kapal di permukaan. Hal ini terungkap ketika KRI Pasopati dalam suatu latihan bersama AL Australia menyelam sambil menarik sebuah bendera di permukaan untuk memperlihatkan posisi mereka. Namun alat sonar canggih milik kapal perang Australia tetap tidak bisa mendeteksi. Apa rahasianya? Ternyata rahasianya terletak
pada metalurgi kapal selam buatan Soviet tersebut sehingga alat sonar kapal-kapal buatan Barat sukar mendeteksinya.
KRI Pasopati pensiun menyelam tahun 1980 dan merupakan kapal selam Tentara Nasional Indonesia AL kelas "W" terakhir beroperasi. Itulah kehebatan kapal selam jenis whiskey class Tentara Nasional Indonesia AL dan betapa heroiknya usaha para awaknya ketika itu.
Sorce: Kompas.Com




No comments:
Post a Comment